Kartika, panggil aku dengan nama itu. Aku gadis dengan usia 29 tahun, usia dimana sebagian masyarakat menganggap rentan, karena sampai saat ini aku masih melajang. Namun, aku tak pernah memperdulikan anggapan mereka itu, karena aku adalah perempuan yang mempunyai tujuan, cita-cita, angan-angan, harapan yang sampai saat ini masih ingin ku gapai, dan satu keyakinan dalam hidup ku jodoh itu unik, kapan saja bisa datang, tak memandang ruang dan waktu, dan itu sudah menjadi rahasia Allah.
Aku juga masih sangat sibuk, karena saat ini aku akan menyelesaikan tesis ku, tiga bulan aku menargetkan agar selesai kuliah . Aku rela mondar-mandir sendirian mencari literatur , pergi ke toko buku, ke perpusatakaan, berkunjung ke rumah dosen untuk berdiskusi, apasaja ku lakukan agar target menyelesaikan kuliah tercapai.
Orang tua ku di Jogya sepertinya juga sudah tak sabar menantikan kedatangan ku, mereka ingin agar aku dapat berkumpul kembali, tapi tenang lah jarak Jakarta-Jogya saat ini bukan masalah, mudah sekali ditempuh.
Pernah dua minggu yang lalu ibu ku menelpon,
“nak, bagaimana kabar mu disana? Kapan akan kau rampungkan kuliah mu? Ibu hanya mengingatkan, usia mu kini sudah 29 tahun nak, apa kamu tak berniat menikah?”.
Aku tak bisa berucap lagi, termasuk mendengarkan perkataan ibu sebelum menutup gagang telponnya,
“oh iya, temen mu si nina dan asih baru saja menikah minggu lalu, sepertinya temen-temen mu yang dulu sering main kerumah sudah menikah semua, bahkan banyak juga yang sudah mempunyai momongan, hanya kau seorang yang belum nak, ibu juga kerap ditanya tetangga, tapi sudahlah, ibu terserah pada kamu saja nak”.
Ya Allah, aku tahu apa yang dirasakan ibu saat ini, beliau boleh jadi sedang galau, karena putrinya yang banyak dibilang “perawan tua” ini belum juga menikah.
Aku juga tak ingin seperti ini, aku juga mendamba lelaki yang akan menjadi pemimpin bagi rumah tangga ku, anak-anak yang berbakti padaku kelak, aku ingin punya keluarga sakinah, mawadah, warohmah. Aku berpikir positif pada-Mu ya Allah, aku yakin Kau akan berikan jodoh yang terbaik untukku, disaat yang tepat pula.
Pagi ini aku harus bangkit, sudah cukup waktu untuk merenung, saatnya mengejar impian. Sesuai keinginan, seharian ini aku mau di perpustakaan kampus saja. Tak mau menyia-nyiakan waktu yang ada, langsung ku cari buku-buku yang mampu menunjang tesis ku, setelah aku dapat beberapa buku, aku membaca di meja pojok kanan, sengaja ku pilih, karena bagiku itu posisi wuueeeennaakkkk.
Tak lama aku duduk, ada seorang lelaki, kira-kira berusia sama dengan ku,
“boleh aku duduk dibangku sebelah mu? .
Tersentak aku, karena rasanya baru kali ini aku dihampiri laki-laki, dan yang bikin heran mengapa mau duduk disampingku? Bukankah masih banyak bangku kosong? Ah biar lah, aku tetap melanjutkan membaca buku pilihanku itu. Lelaki disamping ku pun serius membaca buku, dia hanya menyapa ku sekali itu saja, tak ada basa-basi lagi. Azan zuhur berkumandang, aku menghentikan aktivitas, bergegas menuju masjid, begitulah orang tua ku mengajarkan,
“sebaiknya kalau mendengar azan, segala aktivitas dihentikan, dan penuhi kewajibanmu”.
Sesudah solat dan akan memakai sepatu, terlintas lelaki, ya lelaki yang berada disampingku tadi, ternyata dia juga baru saja menunaikan kewajibannya. Tapi sudahlah, perutku keroncongan, lapeerrrrrr.
Aku menuju kantin, memutuskan untuk makan pecel dan dua bakwan yang dibanjiri bumbu kacang yang lezat banget. Maklum lah selama di Jakarta aku jarang sekali memakan masakan desa ini.
Setelah ku habiskan pecel itu, aku menuju perpus lagi, ada sesuatu yang aneh, mengapa tiba-tiba aku mencari-cari lelaki itu? yah lelaki yang duduk disampingku dan menjadi jamaah solat dzuhur itu.
Akhirnya aku hanya meminjam dua buah buku untuk dibawa pulang ke kos, rasanya sudah buyar konse ntrasiku saat bertemu lelaki tadi, duhai Allah siapa kah dia?
Ba’da subuh ibu menelpon ku,
“nak, sudah solat? bagaimana dengan kuliah mu? kalau boleh ibu memohon, percepatlah sedikit kuliahmu itu, sebab ibu akan memperkenalkan kau dengan anak dari teman sekolah ibu dulu”
Ya Allah, aku kini benar-benar tahu, bahwa ibu ku sudah sangat cemas terhadap ku, ingin rasanya beliau melihat aku mengakhiri masa lajang ku.
Aku yang mengalah kali ini, aku turunkan ego, aku coba menuruti kemauan orangtua ku, aku harus kekampus lagi, barangkali ada info seputar sidang tesis.
Belum ku penuhi niat ku, temen ku menelpon,
“tika, bagaimana dengan tesis mu? apa kamu sudah siap untuk sidang? info yang ku dapat, dua minggu lagi akan dibuka pendaftaran”.
Rasa haru bercampur senang aku mendengar kabar dari teman ku, kebetulan tesis ku sudah hampir sempurna, aku hanya menyelesaikan beberapa administrasi yang diminta sebagai persyaratan sidang, literatur ku juga sangat cukup menunjang ku, dan aku siap.
Allah selalu mendengar doa-doa hambanya yang memohon dengan penuh santun. Aku rapihkan semuanya, aku mau menjadi yang terbaik, belajar..belajar..belajar… sampai tiba sidang diselingi dengan doa yang ikhlas.
Siang ini aku ada janji dengan dosen pembimbing ku, aku juga ingin memperoleh info darinya seputar sidang. Setelah berdiskusi, dosenku justru yang mendorongku untuk sidang putaran pertama, aku disuruh mendaftar, dan segera melengkapi admisnistrasi.
Subhanallah….
Tak perlu menunggu esok, kalau hari ini bisa diselesaikan, aku langsung mendaftar sidang disertai berkas yang menjadi persyaratannya.
“kepastian kapan jadwal sidangnya besok ya, ucap salah satu karyawan yang mengurusi pendaftaran sidangku”
Hari ini adalah hari sidangku, tepat jam sepuluh aku harus berada di kursi panas itu, ini adalah penentuan masa depan ku, rasa dag-dig-dug itu kadang kerap mendatangi ku, tapi aku hanya sanggup berserah diri, toh aku sudah belajar maksimal dan tak lupa doa, jadi apapun hasilnya, itu yang terbaik buatku.
Detik demi detik ku lalui, hening seketika, dan…. “kartika”…. nama itu, itu namaku, aku menghampiri suara merdu itu, ku bawa tumpukan tesisku, masuklah aku dalam ruangan itu.
Alhamdulillah… aku sudah selesai sidang, dan ketika ku tau hasil ku sangat memuaskan, puji syukur ku kepada Mu ya Rabb, Engkau maha segala-Nya.
Selepas subuh aku berniat menelpon ibu ku,
“bu, sebelumnya mohon maaf, ada yang terlewatkan, beberapa hari yang lalu aku sangat sibuk, sehingga aku tak sempat menelpon ibu dan ayah. Syukur alhamdulillah bu, kemarin aku sudah sidang, aku dinyatakan lulus dengan hasil yang memuaskan, aku tahu aku salah, mengapa disaat genting seperti kemarin aku tidak memberi kabar, dan mengharap restumu, aku sangat takut ibu dan ayah kepikiran, tapi aku yakin kau selalu mendoakan ku disela-sela senggang waktumu”
Ibu hanya berucap,
“syukur alhamdulillah nak, akhirnya kau menamatkan kuliah mu, cepatlah kau pulang nak, kami sangat rindu padamu”.
Lanjut ku,
“secepatnya aku akan pulang bu, aku rindu ibu, rindu masakan ibu, rindu dekapanmu, akupun rindu ayah, ada banyak hal yang ingin ku ceritakan bu….”
Sampai juga aku di Jogya, kota kelahiranku, aku langsung menemui ibu, ayah, dan adik-adikku. Ibu langsung mengajakku ke kamar,
“nak, mau kan kamu ibu kenalkan dengan anak teman ibu? Anaknya baik, dia juga sudah bekerja di Jakarta, tapi ibu lupa dimana dia bekerja, dia soleh nak, ibu yakin kamu perempuan yang dicari nak, berdolah nak, mungkin dia adalah jodohmu”
Ibu ku sangat yakin, jadi mengapa aku juga tak berharap? Mungkin memang dia jodohku, maklumlah selama kuliah tidak pernah melakukan pendekatan dengan makhluk yang bernama laki-laki, bukan ku sengaja, tapi memang begitu adanya.
Malam yang hening ku berdoa, sekaligus merenung, bahwa Allah telah meberikan aku berjuta kemudahan, dari kecil sampai saat ini, walau hidup ku berkecukupan, dan jarang sekali perempuan desa seperti aku memperoleh gelar master manajemen. Hanya satu pinta ku ya Rabb, aku ingin mendapatkan jodoh terbaik yang Kau pilih.
Sampai lah pada hari perkenalan itu, sssstttttttttttttttttttt, ku perhatikan baik-baik wajah itu, wajah yang tak asing bagiku, wajah yang pernah ku kenal, siapa dan dimana?
Lelaki itu,
“perkenalkan, namaku Rahman”
“iya, namaku kartika, senang berkenalan dengan mu”
Perkenalan yang begitu singkat, ibu ku tiba-tiba tersenyum, aku tak tahu apa yang dipikirkannya. Ya Allah, lelaki itu ternyata yang aku lihat di perpus dan masjid kampus ku, lelaki yang sempat mengusik pikiran dan membuat hatiku dag,dig,dug.
Lagi-lagi aku berharap, jika memang dia adalah pilihan-Nya, aku ikhlas menerimanya, karena aku yakin Dia akan memberikan yang terbaik untukku.
Seminggu setelahnya lelaki yang bernama Rahman itu melamarku, sebulan kemudian kami menikah, aku berani memutuskan menikah dengannya, karena dalam satu bulan pendekatan, kita banyak berdiskusi tentang rumah tangga apa yang kita cita-citakan, mau apa kita setelah menikah nanti, ternyata cara pandang kita bersatu.
Allah selalu mendengar doa-doa hambanya, jodoh itu pasti akan datang, bersabarlah.